Kamis, 01 Mei 2014

MANA KAWAN MANA LAWAN

 “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah”…..Amsal 27:6
Sobat wanita,…..
Jika sobat wanita memiliki teman/ sahabat yang dapat dipercaya, sobat wanita adalah orang yang beruntung. Mengapa? Karena saat-saat ini sangat sulit mencari  teman sejati atau sahabat yang sejati.
Seperti apakah ciri-ciri sahabat sejati ?
  1. Sahabat sejati adalah seorang yang dapat diandalkan untuk menyimpan semua rahasia.
  2. Sahabat sejati selalu mendengarkan kebenaran tidak mudah diadu domba oleh orang lain
  3. Sahabat sejati jujur, baik hati, dan tidak menjilat dalam   persahabatan
  4. Sahabat sejati tidak mencari keuntungan dan selalu mengutamakan sahabatnya, melebihi kepentingannya sendiri
  5. Sahabat sejati selalu memberi kritik yang membangun, dan mau untuk ditegur jika salah.
  6. Sahabat sejati dapat diandalkan, ia tidak menyebarkan gosip dan tidak menusuk dari belakang
  7. Sahabat sejati selalu bersuka cita bila kita diberkati dan ikut berduka jika sahabatnya sedang berduka
Alangkah bahagianya, jika kita memiliki sahabat sejati yang memiliki ciri-ciri seperti di atas. Sangat mengaggumkan ,jika kita menjadi sahabat  bagi orang lain  dan memiliki karakter seperti di atas.
Terkadang, ada orang yang tampaknya saja menjadi sahabat kita, melewati waktu bersama demi apa yang akan mereka terima ketimbang apa yang mereka beri.  Selalu mengatakan apa yang ingin sobat wanita dengar, ketimbang kritik demi kebaikkan sobat wanita. Selalu ada motif-motif tersembunyi dalam membina persahabatan, inilah teman-teman yang tidak dapat dipercaya.
Dalam menjalin persahabatan, berusahalah untuk memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan. Jadilah sahabat yang baik dan dapat dipercaya.  Kitapun akan menjadi teman yang menyenangkan bagi sesama sekaligus menyenangkan dan memuliakan Tuhan.
 Memanglah orang yang hendak membawakan kebenaran itu, ibarat orang berdiri antara dua pihak. Kawan dapat, musuh pun dapat. Keduanya datang bersama sama. Hanya orang yang tidak memiliki musuh, yang tidak memiliki kawan. Jadi kalau saudara mau mempunyai banyak kawan, musuh saudara pun akan banyak. Tidaklah Tuhan memberikan kepada orang yang berjuang itu kawan saja tanpa lawan. Kalau memang lawan sudah tidak ada, tentu tidak ada lagi perjuangan.
Sukarnya, orang yang sedang memperjuangkan  yang haq itu matanya hanya tertuju kepada lawan lawan saja. Yang dilihatnya hanyalah di mana-mana orang mengejek dan orang memaki lalu dia menjadi sesak nafas dan putus asa. Akan tetapi dia harus melihat juga bahwa Allah SWT mengadakan tiap tiap  sesuatu dalam pasangan. Ini pun ada pasangannya, sebagaimana ada wanita dan pria, ada negative ada positif, ada bathil ada haq, begitu pula ada lawan ada kawan.
Selama kita masih hidup dalam sunnatuLLah yang berlaku di dunia fana ini, kita harus yakin bahwa apabila kita bergerak dalam masyarakat manusia biasa, bukan malaikat, maka ketahuilah bahwa pekerjaan yang kita lakukan tidak terlepas dari orang yang setuju dan dengan orang yang tidak setuju.
``

Kawan Yang Patut Kita Jauhi

Kawan yang patut kita jauhi antara kawan-kawan yang bakal mengganggu gugat kehidupan kita sama ada pada masa kini atau masa akan datang. Jangan diputuskan perhubungan persaudaraan dan silaturrahim kerana itu ditegah dalam Islam namun digalakkan untuk berhubung secara baik dan memberi kebaikan satu sama lain.
Ketika hati sedang gundah gulana kita pasti mencari kawan untuk berkongsi permasalahan dan kegurasan hati kita.
Namun tak semua kawan boleh dijadikan teman dan kalanya mereka bisa menjadi lawan yang paling berbisa kepada kita kelak.
 .
Kawan Yang Patut Kita Jauhi

KAWAN YANG PATUT KITA JAUHI

Jika anda masih ingat akan artikel penulisan yang sedikit kontrovesi dan sering mendapat bacaan ramai iaitu Cara Melupakan Sahabat Yang Jahat maka penulisan ini bukan suatu yang asing lagi.
Kawan, sahabat dan lawan sudah tentu satu perbezaan yang sangat ketara.
Sesetengah orang sangat tidak percayakan seorang kawan berbanding dengan seorang sahabat.
Jadi kita perlu bezakan siapa kawan kita dan siapa sahabat kita dalam kehidupan seharian kita.
Kita yang masih bujang sebegini kawan memang memainkan peranan penting namun ada juga sehinggakan kawan serumah pun belum tentu kita dapat percaya 100% .
Jadi jangan terlalu meletakkan kepercayaan dalam berkawan lagi-lagi dalam hal yang mustahak dan penting.

5 KAWAN YANG PATUT KITA JAUHI

Pengalaman berkawan memang cukup memeritkan ada berbagai ragam dan macam yang perlu kita tahu. Kita juga tak sempurna dari pandangan orang lain.
Jadi cukuplah sekadar jauhi bukannya memutuskan hubungan persaudaraan.
Antara kawan yang patut kita jauhi secara berhemah:
  • Kawan yang hanya pentingkan diri sendiri
  • Kawan yang suka mengambil kesempatan
  • Kawan yang suka memberi helah dan menikam kita dalam diam
  • Kawan yang hilang saat senang, ada saat susah
  • Kawan yang lupakan kawan kerana jabatan atau uang
Nak berkawan dengan siapa pun tak salah selagi mana kita tidak terpengaruh apa yang tidak baik daripada seorang kawan.

PENGARUHI DAN TERPENGARUH

Sebaliknya kitalah yang mempengaruhi kawan kita untuk berubah dan menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
Sangat sukar untuk kita ketemu seorang kawan seperti ini.
Ada kawan yang sama-sama dengan kita saat kita sedang menuju sebuah kesenangan namun akhirnya mereka mampu gelakkan kita saat kita berada dalam kejatuhan.
Dalam masa yang sama mereka hidup senang lenang melupakan kita yang sedang menderita seorang diri.
Jangan terlalu pentingkan seorang kawan daripada segala-galanya, kelak kita sendiri akan sakit. Kita perlu bezakan mana kawan yang boleh menjadi lawan dan yang mana kawan bisa menjadi sahabat kita.
Siapa kawan anda dan bagaimana sifat seorang kawan anda, andalah yang memilih dan menilainya

Kawan Dan Lawan Dalam Perspektif Islam

Publikasi: Kamis, 26 Rabiul Akhir 1435 H / 27 Februari 2014 13:35
kawanSurakarta (An-najah.net) – Kawan dalam terminologi Islam adalah seorang yang bukan diikat oleh ikatan darah, warna kulit, suku bangsa, atau bahasa. Namun, mereka yang diikat oleh ikatan keimanan, pancaran kecintaan dan kebencian, sikap dan persepsinya terhadap Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah Rasulullah menyebutkan bahwa ikatan Islam yang kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.
Sebaliknya, lawan dalam Islam disekat oleh sekat keimanan, pandangan dan sikap kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukan disekat oleh kedekatan, status sosial, keturunan, pangkat, derajat, dan lainnya.
Penempatan kawan dan lawan yang tepat akan melahirkan sikap yang benar. Sebaliknya penempatan yang salah akan melahirkan sikap yang keliru, bahkan dalam tingkatan tertentu yang seharusnya menjadi kawan dianggap sebagai lawan atau sebaliknya.
Dalam frame perjuangan Islam, penempatan kawan dan lawan harus tepat, tidak boleh bergeser sedikitpun apalagi keliru. Penempatan yang tepat seperti menyangga sebuah bangunan yang masing-masing sebagai penguat untuk mendirikan dan menegakkan bangunan dalam wujud kebersamaan.
Namun, sebaliknya penempatan yang salah, seperti menyangga sebuah bangunan. Tapi hakekatnya merobohkan bangunan itu sendiri, karena masing-masing tercerai berai dalam persepsi yang keliru antara kawan dan lawan.
Wa’yu (kesadaran) untuk memaknai kawan dan lawan serta menempatkannya dengan benar dalam bingkai Iqomatuddin hari ini nampaknya jauh dari kenyataan. Masing-masing mempunyai klaim sebagai penegak bangunan din ini, sementara yang lain dianggap tidak mempunyai hak, yang akhirnya tidak saling menguatkan, namun justru satu dengan yang lainnya saling merobohkan.
Batasan antara kawan dan lawan tidak jelas. Batas kecintaan dan kebencian samar. Masing-masing bertikai. Prioritas amalan tidak ada. Sementara musuh semakin mengokohkan cengkramannya. Membelah-belah umat, menancapkan taring-taring syetannya.
Akibatnya, umat tidak memandang indahnya sebuah bagunan, bukan sebagai rahmat bagi alam semesta yang penuh keteduhan dan kedamaian. Namun, mereka justru sinis melihatnya tidak merasa memiliki dan bahkan malu dan muak. Lebih jauh tersebarnya berbagai fitnah ditengah-tengah mereka. Umat bergelimang dalam lautan syahwat dan syubhat. Tersebarnya berbagai kemusyrikan, meratanya kemaksiatan dan merajalelanya kebodohan. Kebenaran terbalik, yang halal menjadi haram yang haram menjadi halal.
Mereka sama-sama merobohkan bangunan. Ini satu akibat mereka salah menempatkan siapa kawan dan siapa lawan. Akankah kenyataan ini menjadi sebuah pelajaran? (Anwar/Reflekasi annajah edisi 27)
.Sebenarnya ada kawan yang masih banyak di luar sana. Namun, di sini, pada saat ini, hanyalah ada aku seorang diri . Terasa menyiksa memang tak bisa berbagi secara langsung ataupun bertemu bertutur semua hal yang digundahkan. Tetapi mereka itu ada. Walau terpisahkan oleh jarak dan mungkin ada yang sudah berubah. Mereka tetaplah kawan. Yang kemudian akan menanyakan kabar, memberikan semangat, bahkan diajak untuk saling berbagi suka duka.
Tak disangka mereka hadir seketika, membuyarkan perihal jarak dan perubahan yang membatasi. Pada momen yang begitu tepat, sosok-sosok mereka menjadikan nuansa keakraban terjalin kembali. Kesendirian yang semula mendera diri, dalam sekejap menghilang memudar. Energi-energi kebaikan melimpah ruah dalam setiap tutur kata yang saling menghubungkan.
Adanya kawan memberikan pelajaran bahwa kesendirian sering membuat buta, menjadikan diri begitu abai akan sosok-sosok mereka. Kawan, terima kasih untuk selalu ada menyertaiku dan menyadarkan diri yang penuh alfa ini. Kawan, maaf atas begitu acuhnya diri tak mulai pertama kali untuk menghubungimu…
Ada kawan yang menyemangati, ada pula lawan yang memusuhi. Dua mata sisi yang berkebalikan dan selalu saja ada di mana pun kapan pun itu. Dua mata sisi yang memang diciptakan oleh Tuhan agar manusia dapat menentukan mana yang dikehendaki atas kehidupannya.
Maka, lawan tak akan jera-jeranya untuk mencari cara untuk memusuhi. Pantang menyerah untuk senantiasa menjerumuskan mangsa yang hendak ia terkam. Nafsu menguasainya dan begitu mementingkan segala hal tentang dirinya. Siapa saja yang menghalangi dari apa maunya, maka tak segan-segan peperangan akan dimulai.
Aku memang seringkali lengah dan pernah dulu terjebak oleh taktiknya. Akan tetapi, untuk kali ini aku tak ragu menantangmu, lawan. Aku muak akan perangai kebusukanmu. Aku lelah mendengar akan segala ucapan sampahmu. Aku tak akan biarkan keinginanmu itu menyusahkanku kembali.
Permainanmu akan berakhir pada kekalahanmu sendiri. Kau buat segala sesuatunya makin runyam dan cepat atau lambat semuanya akan mempersulitmu, menghantammu, dan menghancurkanmu. Ini hanya persoalan waktu belaka dan ingat saja, aku pernah mengingatkanmu, bahkan pun berkali-kali. Tapi apa lacur, kau malah mengambil jalan untuk memusuhi.
Tentang kawan dan lawan. Dua sisi yang selalu menyertai. Dua sisi yang mempunyai kekuatan yang sama besarnya. Dua sisi yang akan selalu ada pada penggalan momen kehidupan….
Pekerjaan, jabatan, ambisi... Menjadi tiga kata yang begitu hebat...
Hari-hari dalam pertemanan begitu indah, menyenangkan dan penuh dengan keakraban
Saat pertemanan melangkah ke arah hubungan bisnis dan terjerembab dalam dunia kerja yang menuntut profesionalisme,  dalam sekejap, kawan menjadi lawan...
Kebiasaan tertawa terbahak dalam obrolan gak penting, berubah wujud menjadi wajah tegang nan sinis
Tak ada lagi pelukan solidaritas, yang ada sekarang hanya jarak dan tetap berdiri di posisi masing-masing
Curhat menjelma menjadi perintah dan tuduhan
Hubungan ini, kehilangan toleransi
PANTUN KAWAN DAN LAWAN
Bunyi peluru dentum meriam
Bersahutan di wilayah Gaza
Orang Israel dan Palestina
Bermusuhan sejak nenek moyang

Burung pipit banyak di sawah
Terbang berkawan merusak padi
Orang gelandangan hidup berkawan
Bakal penjahat atau pencuri

Buah salak enak rasanya
Sarat tandan pohon berduri
Orang galak seram rupanya
Tampang Saja bukan dihati

Rajawali burung raksasa
Terbang tinggi mengincer mangsa
Orang kikir sempit wawasan
Tak segera makan walaupun kawan

Pandai pandai mencencang akar
Mati juga diranting dan cabang
Pandai pandai menanam jasa
Lawan bisa jadi tawanan

0 komentar:

Posting Komentar