Kamis, 01 Mei 2014

Seputar yng namanya Kepemimpinan


Tahun ini adalah tahun perhelatan pemilu, dimana setiap orang yang sudah memenuhi syarat bisa memilih calon pemimpin yang dinilainya layak menjadi pemimpin. Mulai dari anak SMA yang baru memiliki KTP sampai ilmuan bergelar panjang, berhak dan bisa memilih pilihannya sendiri. Bayangkan, anak SMA yang masih kebingungan menentukan jurusan kuliah yang dipilihnya harus sudah memilih seorang pemimpin. Memilih kampus dan jurusan kuliah saja masih meraba-raba, apalagi memilih seorang pemimpin. Dan bisa dibayangkan hak pilih anak-anak remaja dalam situasi pemilu di negeri ini bisa disamakan dengan hak pilih seorang ilmuan sekalipun. It's a fact!

Seharusnya ini menjadi refleksi diri bagi kita semua umumnya dan khususnya bagi para calon pemimpin. Begitu banyak kekecewaan dari hasil pilihan pemilih hanya karena terhipnotis janji-janji manis palsu yang terucap para calon pemimpin. Banyak cara dilakukan mereka untuk mempromosikan diri. Itu hak mereka. Permasalahannya, sekarang ini di negeri kita sedang mengalami krisis figur seorang pemimpin yang layak jadi panutan! Harga sebuah integritas sangatlah mahal dan langka untuk saat ini. Seorang pemimpin yang dibutuhkan saat ini tidak hanya cukup bermodalkan intelektual, kemapanan, dan popularitas. Tapi juga butuh yang berakhlak dan bertaqwa. 

Apa jadinya jiga seorang pemimpin tidak memiliki integritas? Apa jadinya jika seorang pemimpin antara perkataan dan perbuatannya sering tidak sejalan. Pantaskah yang seperti itu menjadi panutan? Pemimpin itu adalah imam, seperti halnya imam dalam shalat. Bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi imam shalat jika bacaan tidak fasih dan tidak memahami apa yang dibacanya. Pantaskah kita menjadi imam, saat shalat kita sering bolong-bolong? Saat shalat sendirian ingin cepat-cepat selesai (ngebut), tapi saat dirinya menjadi imam ingin berlama-lama agar dilihat khusyuk? Pantaskah yang seperti itu menjadi imam?

Setiap orang memang dilahirkan menjadi pemimpin. Tapi bagaimana jadinya jika kita sendiri tidak bisa memimpin diri kita sendiri. Bagaimana bisa memimpin orang lain, jika kita masih belum bisa memimpin diri sendiri. Setiap pilihan yang kita pilih, akan menentukan nasib kita kedepannya. Karena kita yang sekarang ini adalah hasil dari pilihan kita dimasa lalu. Memilih atau tidak pun adalah sebuah pilihan. So, hati-hatilah dalam memilih, jika tidak ingin kecewa

Seorang pemimpin
Yang paling penting
Integritas harus beres
Kita membutuhkan
Pemimpin yang trus menerus
Menegakan kebenaran
Rakyat Butuh figur baru
Yang slalu optimis
Ga banyak berkeluh kesah
Bukan yang bertingkah palsu
Dan yang ingkar janji
Dan Yang…
Tidak..tidak..tidak tau diri
Aiyaaa!!..Pemimpin bangsa
Aiyaaa!!..Harus
Aiyaaa!!..Pelan-pelan
Aiyaaa!!..Menebas para koruptor
Aiyaaa!!..Ya tentu saja
Aiyaaa!!..Harus
Aiyaaa!!..Punya ketegasan
Aiyaaa!!..Menebas para koruptor
That’s Right
That’s Right..Itu bisa di atasi
That’s Right
Kita bekerja untuk masyarakat
Tidak, tidak ada kepentingan

Menjadi Teladan


ASTA DASA KOTAMANING PRABHU
Delapan belas sikap dan perilaku pemimpin menurut Gajah Mada

1
WIJAYA
Seorang pemimpin harus mempunyai jiwa yang tenang, sabar dan bijaksana serta tidak lekas panik dalam menghadapi berbagai macam persoalan. Karena hanya dengan jiwa yang tenang masalah akan dapat dipecahkan.
2
MANTRI WIRA
Seorang pemimpin harus berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa terpengaruh tekanan dari pihak manapun.
3
NATANGGUAN
Seorang pemimpin harus mendapat kepercayaan dari rakyat dan berusaha menjaga kepercayaan tersebut sebagai tanggung jawab dan kehormatan
4
SATYA BAKTI PRABHU
Seorang pemimpin harus memiliki loyalitas terhadap kepentingan yang lebih tinggi dan bertindak dengan penuh kesetiaan demi nusa dan bangsa.
5
WAGMIWAK
Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan mengutarakan pendapat, pandai bicara, tutur kata tertib dan sopan, serta mampu menggugah rakyatnya.
6
WICAKSANENG NAYA
Seorang pemimpin harus pandai berdiplomasi, pandai mengatur strategi dan siasat.
7
SARJAWA UPASAMA
Seorang pemimpin harus rendah hati, tidak boleh sombong, congkak, mentang-mentang dan sok kuasa.
8
DIROSAHA
Seorang pemimpin harus rajin dan tekun bekerja, memusatkan rasa, cipta, karsa dan karyanya untuk mengabdi kepentingan umum.
9
TAN SATRESNA
Seorang pemimpin tidak boleh pilih kasih dan memihak suatu golongan, tetapi mengatasi segala paham golongan sehingga mampu mempersatukan seluruh potensi untuk mensukseskan cita-cita bersama.
10
MASIHI SAMASTA BHUWANA
Seorang pemimpin mencintai alam semesta dengan melestarikan lingkungann hidup sebagai karunia Tuhan dan mengelola sumber daya alam sebaik-baiknya demi kesejahteraan rakyat.
11
SIH SAMASTA BHUWANA
Seorang pemimpin dicintai oleh segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin mencintai rakyatnya.
12
NEGARA GINENG PRATIJNA
Seorang pemimpin senantiasa mengutamakan kepentingan negara dari pada kepentingan pribadi, keluarga ataupun golongan.
13
DIBYACITHA
Seorang pemimpin harus lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya (akomodatif dan aspiratif).
14
SUMANTRI
Seorang pemimpin harus tegas, jujur, bersih dan berwibawa.
15
NAYAKEN MUSUH
Dapat menguasai musuh-musuh, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, termasuk juga yang ada dalam dirinya sendiri (à sad ripu = enam musuh; kama = hawa nafsu; loba = tamak/rakus; kroda = marah; moha = kebingungan; mada = mabuk; matsarya = iri hati)
16
AMBEG PARAMA ARTHA
Seorang pemimpin harus pandai menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum.
17
WASPADA PURWA ARTHA
Seorang pemimpin selalu waspada dan mau melakukan mawas diri (instrospeksi) untuk melakukan perbaikan.
18
PRASAJA
Seorang pemimpin supaya berpola hidup sederhana (aparigraha), tidak berfoya-foya atau serba gemerlap.


ASTA BRATA
Delapan sikap dan perilaku pemimpin menurut Rama Wijaya

1
LAKU HAMBEGING BATHARA INDRA
Seorang pemimpin hendaknya seperti hujan, yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam setiap tindakannya dapat membawa kesejukan dan penuh wibawa.
2
LAKU HAMBEGING BATHARA YAMA
Seorang pemimpin berani menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi masyarakat.
3
LAKU HAMBEGING BATHARA SURYA
Seorang pemimpin memiliki sifat-sifat seperti matahari, yang mampu memberikan semangat dan kekuatan pada kehidupan yang penuh dinamika dan sebagai sumber energi.
4
LAKU HAMBEGING BATHARA CANDRA
Seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti bulan, yaitu mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kegelapan/kebodohan dengan menampilkan wajah yang penuh kesejukan dan penuh simpati sehingga rakyat merasa nyaman dan tenteram
5
LAKU HAMBEGING BATHARA BAYU
Pemimpin hendaknya ibarat angin, senantiasa berada di tengah-tengah masyarakatnya, memberikan kesegaran dan selalu turun ke bawah untuk mengenal denyut kehidupan mayarakat yang dipimpinnya.
6
LAKU HAMBEGING BATHARA DANADA
Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat utama dari bumi yaitu teguh, memjadi landasan berpijak dan memberi segala yang dimiliki untuk kesejahteraan masyarakatnya.
7
LAKU HAMBEGING BATHARA BARUNA
Pemimpin hendaknya seperti samudra; memiliki wawasan yang luas, mampu mengatasi setiap gejolak (riak) dengan baik, penuh kearifan dan kebijaksanaan.
8
LAKU HAMBEGING BATHARA AGNI
Pemimpin hendaknya memiliki sifat mulia dari api; mendorong masyarakat berpartisipasi, tetap teguh dan tegak dalam prinsip dan menghanguskan yang bersalah tanpa pilih kasih.


NITI SASTRA
Kriteria pemimpin yang didukung masyarakat menurut Niti Sastra

1
ABIKAMIKA
Pemimpin harus tampil simpatik, berorientasi ke bawah dan mengutamakan kepentingan rakyat banyak dari pada kepentingan pribadi atau golongan.
2
PRAJNA
Pemimpin harus bersikap arif dan bijaksana; menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, agama, serta dapat dijadikan panutan bagi rakyatnya.
3
USAHA
Pemimpin harus proaktif, berinisiatif, kreatif dan inovatif (pelopor pembaharuan), serta rela mengabdi tanpa pamrih untuk kesejahteraan rakyat.
4
ATMA SAMPAD
Pemimpin mempunyai kepribadian: berintegritas tinggi, moral yang luhur, serta obyektif dan mempunyai wawasan yang jauh ke masa depan.
5
SAKYA SAMANTA
Pemimpin sebagai fungsi kontrol mampu mengawasi bawahan (efektif, efisien) dan berani/tegas menindak mereka yang bersalah secara adil tanpa pilih kasih.
6
AKSUDRA PARI SAKTA
Pemimpin harus akomodatif, mampu memadukan perbedaan dengan permusyawarahan, pandai berdiplomasi, mampu menyerap aspirasi bawahan dan rakyat.


ON BECOMING A LEADER
Syarat-syarat untuk menjadi seorang pemimpin, menurut Warren Bennis

1
PEMBELAJAR
Terus-menerus belajar dan memiliki keingintahuan yang tidak pernah mati
2
MEMBENTUK VISI SEBAGAI DORONGAN
Pemimpin pertama-tama menetapkan realitas/apa yang mereka yakini mungkin, dan kemudian mulai ‘mengelola mimpi’ mereka
3
MENGKOMUNIKASIKAN VISI
Mengembangkan kemampuan untuk mengkomunikasikan dan menginspirasi orang lain untuk mengikuti visi tersebut
4
MENGAMBIL RISIKO
Keberanian untuk mentoleransi ketidakpastian dan mengambil risiko
5
INTEGRITAS PRIBADI
Pengenalan diri, keterusterangan, kematangan diri, keterbukaan terhadap kritik
6
MENJADI UNIK DAN ORISINIL
Para pemimpin belajar dari orang lain, tetapi tidak diciptakan oleh orang lain’
7
PENCIPTAAN KEMBALI
Untuk menciptakan hal-hal baru kadang kala melibatkan penciptaan kembali diri anda sendiri – anda mungkin dipengaruhi oleh gen-gen anda dan lingkungan anda, tetapi para pemimpin mengambil semua pengaruh mereka dan menciptakan sesuatu yang unik
8
BERPIKIR DAN REFLEKSI DIRI
Meluangkan waktu untuk berpikir dan merefleksikan diri, yang dapat menghasilkan berbagai jawaban dan resolusi
9
ANTUSIASME
Antusiasme terhadap hidup yang penuh harapan; yakin yang terbaik bagi diri anda dan orang lain
10
MELIHAT KEBERHASILAN KECIL
Melihat keberhasilan di dalam keberuntungan dan kesenangan kecil sehari-hari, tidak hanya menunggu akan datangnya sukses besar
11
MEMANFAATKAN LINGKUNGAN
Manfaatkan lingkungan anda, jangan menyerah kepadanya


THE HANDBOOK FOR LEADER
John H. Zenger, Joseph Folkman

“Kami tetap berpendapat bahwa kebanyakan organisasi hanya memanfaatkan sebagian dari potensi para pekerjanya. Kami yakin bahwa orang dapat meningkatkan kinerjanya lebih tinggi lagi bilamana organisasi menciptakan iklim yang tepat”
“Anda akan mendengar beberapa orang mengatakan bahwa pengembangan kepemimpinan adalah sesuatu yang diinvestasikan oleh organisasi dalam jangka panjang dan bahwa tidak seorangpun dapat mengharapkan hasil langsung. Kami justru berpendapat sebaliknya. Anda harus melihat langsung hasilnya. Bila anda tidak melihat hasilnya dalam waktu relative singkat, kami justru meragukan apakah anda akan pernah melihatnya”
“Para pemimpin luar biasa tidak ditentukan oleh tidak adanya kelemahan, tetapi lebih oleh adanya kekuatan nyata. Kunci untuk mengembangkan kepemimpinan yang luar biasa adalah membangun kekuatan”

1
PEMIMPIN TERCIPTA KARENA BENTUKAN

 “Mitos kepemimpinan yang paling berbahaya adalah bahwa seorang pemimpin tercipta saat dilahirkan – bahwa ada factor genetic dalam kepemimpinan. Mitos itu juga menegaskan bahwa manusia memiliki atau tidak memiliki sifat kharismatik tersebut. Itu semua adalah omong kosong; nyatanya, yang benar adalah kebalikannya. Para pemimpin dibentuk dan bukan dilahirkan”
Warren G. Bennis

2
PEMIMPIN BESAR MEMBAWA PENGARUH BESAR  

“Para pemimpin luar biasa secara konsisten mencapai hasil yang jauh melampaui para pemimpin yang baik”
John H. Zenger & Joseph Folkman

“Pada sebuah bank hipotek, kami menemukan bahwa para pemimpin yang luar biasa mampu menciptakan laba sebesar hampir dua kali lipat dari pemimpin yang baik. Studi yang lain menunjukkan bahwa para pemimpin yang unggul rata-rata memberikan imbal hasil atas saham sebesar hampir tujuh kali lipat dibandingkan pasar pada umumnya”

3
BENTUKLAH PEMIMPIN YANG BAIK MENJADI PEMIMPIN BESAR 

“Terlampau banyak pemimpin yang baik yang merasa bahwa arti menjadi baik itu sekedar menkjadi ‘cukup baik’ belaka. Mereka percaya bahwa para pemimpin yang luar biasa adalah adalah orang-orang yang memiliki bakat luarbiasa yang dibawa sejak lahir”
“Namun, bakat alami yang dibawa sejak lahir bukanlah penentu utama bagi seseorang yang mau menjadi pemimpin yang luar biasa. Yang penting dalam hal ini adalah disiplin”
“Seorang profesor menerangkan, ‘Disiplin selalu lebih penting dibandingkan dengan beberapa bakat alami yang dibawa sejak lahir. Dengan dedikasi yang tinggi untuk berlatih, mereka yang memiliki disiplin akan melampaui mereka yang memiliki bakat alami dalam waktu beberapa semester saja. Tanpa disiplin dan kemampuan belajar, mereka yang memiliki bakat alami tidak pernah bergerak maju melampaui kemampuan mereka pada saat ini”

“Kebanyakan orang ketika untuk pertama kalinya menjadi manajer, memasuki masa pembelajaran yang intens. Mereka begitu terbuka terhadap saran dan gagasan dari para manajer yang berpengalaman. Begitu merasa cukup kompeten menjadi manajer, mereka bergeser dari berlatih menjadi bermain. Bermain kepemimpinan pada dasarnya lebih menyenangkan, namun pengembangan ketrampilan yang diperoleh sangat lambat dan bahkan terhenti sama sekali”

“Bila lebih baik itu mungkin, maka baik saja menjadi tidak cukup”
Anonim

“Bahaya yang paling besar bagi kebanyakan dari kita bukanlah karena tujuan kita terlampau tinggi dan kita gagal mencapainya, tetapi karena tujuan kita terlampau rendah dan kita dapat mencapainya”
Michelangelo

4
TEGAKKAN KEMAH KEPEMIMPINAN  

“Perilaku kepemimpinan semuanya terjalin bersama-sama menjadi satu, sangat mirip dengan jaringan otak manusia yang rumit. Ada saling ketergantungan yang sulit dipercaya diantara mereka”
John H. Zenger & Joseph Folkman

“Sebuah metafora yang lebih akurat untuk memahami kepemimpinan adalah sebuah kemah yang besar, dengan ruangan tiga dimensi di bawah atap kemah yang terbuat dari terpal dan yang menggambarkan efektivitas kepemimpinan. Tiang-tiang penyangga dalam metafora ini menunjukkan ‘kekuatan’ kunci dari setiap pemimpin secara individual, khususnya lima kekuatan yang telah menunjukkan mana yang lebih berarti antara pemimpin luar biasa dan pemimpin yang baik, yaitu (1) karakter, (2) kemampuan personal, (3) berfokus pada hasil, (4) keterampilan hubungan antarpribadi, (5) memelopori perubahan organisasi. Terpal kemah ini menunjukkan semua kompetensi yang mungkin ditunjukkan oleh seorang pemimpin”
“Kunci untuk menjadi serang pemimpin yang lebih efektif adalah mendirikan kemah tersebut dengan menegakkan kelima tiang penyangga. Menegakkan satu tiang penyangga akan menaikkan bagian kemah yang berada di sekitar tiang itu serta mengangkat terpal yang cukup luas. Ketika tiang kompetensi kedua ditegakkan, sebagian yang lain dari kemah juga turut terangkat, tidak hanya mengangkat terpal diatasnya, tetapi juga terpal diantara kedua tiang kepemimpinan tersebut. Setiap kali tiang kemah kompetensi ini ditegakkan, sebagian besar terpal terangkat sampai akhirnya ada volume ruangan yang lapang di bawah atap kemah tersebut”

5
KARAKTER ADALAH INTISARI KEPEMIMPINAN 

“Segala sesuatu tentang kepemimpinan memancar dari karakter”
Dave Ulrich

“Tiang utama kemah dalam metafora kepemimpinan kita adalah karakter. Penelitian kami menunjukkan bahwa seseorang yang memperoleh angka rendah untuk karakter, mutlak tidak mempunyai kesempatan untuk terlihat sebagai pemimpin yang luar biasa, khususnya dalam jangka panjang”
“Para pemimpin yang berkarakter: (1) Memiliki komitmen yang kuat. Menepati kata-kata. Membuat keputusan sesuai potensi organisasi, bukan agenda pribadi. (2) Memperlakukan orang lain dengan penuh hormat. Tidak ‘tersenyum sambil menendang’. Memperlakukan pesuruh dan penjaga sama dengan memperlakukan seorang CEO. (3) Memandang orang lain melalui lensa yang positif. Menganggap orang lain mempunyai niat baik, bukan niat buruk. (4) Mencari peluang bekerja sama dan bukan bersaing”

“Untuk menyesuaikan karakter anda, ubahlah perilaku anda. Bila anda berhasil mengubah perilaku, perubahan luar biasa akan terjadi pada sikap dan akhirnya karakter: (1) Selalu menepati janji. Bila tidak mungkin mampu, jangan menyembunyikannya, akui dan jelaskan ulang maksud anda. (2) Bersikaplah rendah hati. Tertawakan diri anda. Jangan memamerkan kekuasaan anda. Kerendahan hati membuat anda dapat didekati. Hal ini juga akan membuka pintu menuju pembinaan hubungan. (3) Dapatkan sebuah cermin. Anda perlu tahu bagaimana orang lain merasakan karakter anda. Cermin ini mungkin berupa seorang mentor, seorang kolega/teman yang dapat dipercaya atau sebuah proses umpan balik yang efektif”

6
PEMIMPIN MEMERLUKAN KEMAMPUAN PERSONAL 

“Kepemimpinan tidak dapat didelegasikan kepada orang lain”
John H. Zenger dan Joseph Folkman

“Tiang kemah kepemimpinan kedua adalah kemampuan personal. Kemampuan personal bukan keterampilan yang secara khas digambarkan sebagai keterampilan kepemimpinan, antara lain: (1) Pengetahuan teknis Ã  pengetahuan sisi teknologi dari bisnis/tugas (2) Pengetahuan produk Ã  memahami produk yang dihasilkan dan mengapa produk itu lebih unggul dari pesaing (3) Keterampilan menganalisa dan memecahkan masalah Ã kemampuan untuk merumuskan masalah, menganalisanya dan rekomendasi pemecahan masalah (4) Keterampilan professional Ã  mampu secara cerdas dan ringkas membuat presentasi yang menarik, mengelola pekerjaan secara efisien, memantau kemajuan dan bekerja tanpa supervise yang ketat (5) Inovatif Ã  memiliki pandangan yang segar terhadap pendekatan suatu masalah, meninggalkan cara-cara lama dan melihat kemungkinan-kemungkinan baru (6) Prakarsa Ã  segera melihat sesuatu yang tidak beres dan segera bertindak untuk memastikan hal tersebut telah ditangani dengan benar (7) Menggunakan TI secara efektif Ã  penggunaan email, perangkat lunak yang canggih dan tehnologi apapun yang dapat meningkatkan kinerja”

7
BERFOKUS PADA HASIL AKHIR 

“Para pemimpin yang tidak memperoleh hasil tidak memimpin dengan sungguh-sungguh”
David Ulrich, Jack Zenger & Norm Smallwood

“Pada akhirnya, kepemimpinan adalah soal memberikan hasil. Tiang kepemimpinan ketiga adalah berfokus pada hasil. Manajer yang paling baik mampu menerjemahkan gagasan ke dalam tindakan. Mereka berusaha mengambil langkah berikutnya dengan membawa energi, antusiasme dan urgensi pada peran mereka. Mereka terus mencari jalan untuk meningkat. Para pemimpin yang luar biasa ini, para pemimpin yang berfokus pada hasil ini, biasanya melakukan hal-hal; (1) menetapkan tujuan yang lentur bagi anak buah mereka (2) mengambil tanggung jawab pribadi atas kerja kelompok (3) terus menerus memberikan umpan balik dan bimbingan bagi anak buah (4) menetapkan target yang tinggi untuk dicapai kelompok (5) menjadi sponsor secara pribadi atas prakarsa atau aksi (6) memprakarsai program, proyek, proses, hubungan dengan klien atau teknologi baru (7) berfokus pada tujuan organisasi dan memastikan bahwa tujuan itu telah diterjemahkan menjadi tindakan (8) beroperasi dengan kecepatan dan intensitas tinggi; mengakselerasi kecepatan kelompok (9) memperjuangkan kelihan kostumer (10) menyeimbangkan tujuan jangka panjang dan jangka pendek”

8
OLAHLAH KETERAMPILAN HUBUNGAN ANTAR PERSONAL  

“Bila kita memperlakukan orang lain seperti apa adanya, kita akan membuat membuat mereka menjadi lebih buruk, tetapi bila kita memperlakukan mereka sebagaimana seharusnya, kita membantu mereka menjadi sesuai kemampuan mereka”
Johann Wolfgang von Goethe

“Tiang kemah kepemimpinan keempat adalah keterampilan hubungan antarpribadi. Bersama dengan tiang utama (karakter), tiang ini dapat dikatakan menyangga sebagian besar atap terpal. Sejak kematian ‘kepemimpinan memerintah dan mengawasi’ kompetensi kepemimpinan menjadi semakin penting; diantara semua itu, keterampilan hubungan antarpribadi menjadi yang paling penting untuk menentukan seorang pemimpin dapat digolongkan sebagai luar biasa atau tidak”
“Pemimpin yang mengembangkan keterampilan hubungan antarpribadi berkomunikasi dengan penuh daya dan limpah. Tidak menyimpan wawasan barunya sendiri, tetapi meneruskannya kepada orang lain. Memberikan arah dan tujuan bagi kelompok kerjanya. Membantu pekerja memahami bagaimana pekerjaan mereka memberi sumbangan pada organisasi”
“Pemimpin yang mengembangkan keterampilan hubungan antarpribadi menginspirasi orang lain untuk menuju kinerja tinggi. Memberi semangat dan menetapkan sasaran yang longgar, yang dapat memotivasi untuk maju lebih jauh lagi, mencapai lebih banyak dari apa yang mereka anggap mungkin”
“Pemimpin yang mengembangkan keterampilan hubungan antarpribadi membangun kepercayaan, bertindak agar orang mempercayai. Menyeimbangkan antara produktivitas/hasil dengan masalah para pekerja. Bila timbul konflik, memperhatikan perasaan pekerja maupun aspek teknis masalah.
“Pemimpin yang mengembangkan keterampilan hubungan antarpribadi mengembangkan orang lain. Selalu mendukung pertumbuhan dan perkembangan orang lain dengan memberikan umpan balik yang jujur dan konstruktif serta menyeimbangkan tindakan korektif dengan evaluasi yang positif. Mereka memperhatikan karier para pekerja, membiarkan tumbuh dan berkembang, meskipun itu berarti keluar dari bagian itu”
“Pemimpin yang mengembangkan keterampilan hubungan antarpribadi bekerja sama dan mengembangkan tim yang kuat. Mereka selalu berhubungan, sehingga dorongan untuk bekerja sama mengalahkan dorongan untuk bersaing”

9
PELOPORI PERUBAHAN ORGANISASIONAL  

“Kemampuan untuk mempelopori perubahan organisasional merupakan tiang kelima kepemimpinan luar biasa. Pemimpin menginspirasi orang lain untuk berkumpul di sekitar perubahan; bukan mendorong, membujuk atau bahkan mengancam para pekerja agar mau menerima perubahan. Organisasi-organisasi dewasa ini terus berhadapan dengan perubahan – dari pertumbuhan yang dramatis sampai perampingan dan strukturisasi – para pemimpin harus mampu secara terampil membimbing organisasi menuju arah strategi baru; sebagai sebuah perjalanan yang menyenangkan, bukan sebuah ‘perjalanan melalui neraka’”
“Pemimpin yang luar biasa, mampu menyeimbangkan antara mengarahkan perubahan dan melibatkan orang-orang lain. Pemimpin dengan kecenderungan pengarahan yang tinggi sering melengkapi diri dengan rencana yang tersusun rapid an dikomunikasikan dengan jelas. Mereka tetap mengendalikan, tetapi ada kalanya para pekerja merasa bahwa perubahan dijalankan terhadap mereka bukan bersama mereka. Hasil akhirnya adalah para pekerja menolak perubahan dan mulai tidak mempercayai manajemen. Disamping itu, para pemimpin yang suka melibatkan orang, kadang-kadang gagal memberikan pengarahan yang cukup; membiarkan para pekerja kebingungan mengenai peran mereka dan apa yang perlu mereka lakukan untuk membuat perubahan itu terus bergerak maju. Kadang-kadang para pemimpin yang cenderung melibatkan orang lain, tidak mau mengambil risiko atau keputusan yang tegas”

10
TEMUKAN TITIK MANIS KEPEMIMPINAN ANDA  

“Salah satu kunci menuju kemampuan yang luar biasa adalah menemukan titik potong dari apa yang dapat anda kerjakan dengan baik, apa yang anda suka kerjakan dan apa yang dihargai oleh organisasi (1) ‘Karier terbaik’ menimba dari bakat atau kompetensi seseorang. Ketika orang mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya, hampir selalu mereka menggunakan keterampilan, pengetahuan atau keahlian yang membedakan diri mereka dengan orang lain (2) Sebuah pengalaman ‘karier terbaik’ dibangun di atas apa yang benar-benar dihasratkan seseorang. Hasrat adalah hal-hal yang suka kita kerjakan, tanpa memperdulikan sebaik apa (3) “Karier terbaik’ pasti menambah nilai organisasi”
Kurt Sandholtz

“Ketika anda menemukan bidang persimpangan antara kompetensi anda, hasrat anda dan kebutuhan orang lain; anda akan merasa lebih tertarik dan termotivasi serta pekerjaan itu sendiri menjadi lebih menyenangkan”

11
BERFOKUSLAH PADA MEMBANGUN KEKUATAN  

“Pengalaman kami menunjukkan bahwa, bila orang memperoleh umpan balik tentang perilaku mereka, mereka akan cenderung memusatkan perhatian pada poin yang menunjukkan angka paling rendah. Mereka percaya, bahwa memperbaiki kelemahan akan memberikan pengaruh lebih kuat atas peringkat efektivitas dibandingkan dengan membangun kekuatan. Bagaimanapun juga, strategi ini akhirnya tidak banyak membantu membuat pemimpin baik menjadi luar biasa. Apa yang jauh lebih efektif dalam jangka panjang adalah berfokus pada membangun kekuatan”

“Kebanyakan masalah tidak dapat diselesaikan. Kebanyakan masalah hanya dapat diselamatkan. Dan seseorang dapat menyelamatkan masalah itu dengan membuatnya tidak relevan lagi sebagai masalah berkat kesuksesan… Orang akan terfokus pada kesuksesan, khususnya kesuksesan yang tidak diduga dan memanfaatkannya”
Peter F. Drucker

“Jangan memikirkan kesalahan anda: carilah apa yang baik dan kuat, lalu tirulah. Ketika saatnya tiba, kesalahan anda akan gugur bagaikan selembar daun kering”
John Ruskin

12
BERKONSENTRASILAH PADA PENGEMBANGAN 2-5 KEKUATAN 

“Suatu studi terhadap 8.000 pemimpin menunjukkan bahwa para pemimpin yang tidak memiliki kekuatan memperoleh peringkat pada persentase ke-34, dengan kata lain tanpa memiliki keistimewaan apapun anda berada pada dasar ketiga dalam hal anggapan efektivitas kepemimpinan secara keseluruhan. Para pemimpin yang memiliki satu kekuatan saja rata-rata akan bergerak dari persentase ke-34 menuju persentase ke-64. Pemimpin dengan tiga kekuatan berada pada peringkat persentase ke-81. Sementara pemimpin dengan lima kekuatan berada pada peringkat puncak 10% – pada persentase ke-91”
“Untuk berada pada persentase ke-90, seorang pemimpin hanya perlu memiliki lima keterampilan tinggi saja: (1) Doronglah diri anda sendiri agar meningkat, hanya memiliki satu kekuatan saja dapat membuat peringkat kinerja meningkat drastis (2) Jangan berlebihan, jangan mencoba mengubah segala sesuatu pada saat yang sama, berfokuslah pada peningkatan tidak lebih dari tiga bidang sekaligus (3) Berfokuslah pada tujuan menjadi luar biasa, ini bukan tidak mungkin, langkah pertama adalah mengetahui dimana seharusnya anda memusatkan energi anda”

“Orang hanya dapat berhasil dalam perubahan bila mereka memusatkan upaya mereka dalam sedikit bidang saja. Kami menyarankan maksimum sebanyak tiga bidang peningkatan pada satu saat”
John H. Zenger &Joseph Folkman

13
BIARKAN EFEK HALO ITU BEKERJA BAGI ANDA  

“Apabila pemimpin menunjukkan beberapa perilaku yang luar biasa bagus, kesan orang tentang mereka atas kompetensi lainnya cenderung menyimpang secara positif. Pengaruh sebaliknya juga akan terjadi apabila mereka memiliki kelemahan. Ini disebut ‘efek halo’. ‘Efek halo’ ini dapat menjadi alat yang berguna bagi mereka yang berusaha meningkatkan keterampilan kepemimpinan mereka”

“Bila orang memiliki kesan umum bahwa individu adalah seorang pemimpin yang luar biasa, mereka akan melebih-lebihkan keterampilan dan kemampuan orang ini. Kuncinya adalah membuat proses pertalian ini bekerja bagi anda dan bukannya malah menentang anda”
John H. Zenger & Joseph Folkman

14
CARILAH KOMBINASI KOMPETENSI YANG KUAT 

“Rahasia membangun kesuksesan sebagai seorang pemimpin adalah menjadi unggul dalam kombinasi keterampilan yang kuat. Pengaruh kombinasi yang kuat ini adalah menegakkan dan mempertinggi tiang kemah yang akan mengangkat kemah kepemimpinan secara keseluruhan menuju suatu ketinggian yang baru. Kombinasi yang kuat memberikan hasil yang berlipat ganda”
“Beberapa contoh kombinasi yang kuat: (1) Pengetahuan teknis dan kemampuan menginspirasi atau memotivasi orang lain (2) Mengaitkan dengan dunia luar dan kemampuan menginspirasi orang lain (3) Berfokus pada hasil dan kemampuan berkomunikasi antar pribadi yang kuat (4) Kerja tim/kerja sama dengan menetapkan sasaran yang longgar (5) Perspektif strategis dan keterampilan pemecahan masalah/analisis”

15
PERBAIKI KEKURANGAN YANG FATAL 

“Bila anda memiliki kekurangan yang fatal – perbaiki! Dalam beberapa kasus, bekerja berdasarkan kelemahan merupakan pendekatan yang paling baik untuk meningkat. Bila kekurangan yang fatal tidak dikoreksi, maka ia akan menggusur keseluruhan persepsi tentang efektivitas kepemimpinan. Satu angka yang sangat rendah akan menghasilkan efek halo yang negatif”

“Perilaku fatal yang membuat seseorang tidak mungkin dapat dianggap sebagai pemimpin yang efektif adalah: (1) Kemampuan untuk belajar dari kesalahan (2) Kurangnya keterampilan membina hubungan (3) Kurangnya keterbukaan terhadap gagasan-gagasan baru (4) Kurangnya akuntabilitas (5) Kurangnya prakarsa”

16
BELAJARLAH DARI KESALAHAN  

“Ketidakmampuan belajar dari kesalahan adalah satu-satunya penyebab terbesar kegagalan para pemimpin. Ini adalah kekurangan fatal yang pertama”

“Beberapa pemimpin tampak begitu menjanjikan sehingga mereka diharapkan dapat menanjak menuju puncak organisasi mereka – namun kemudian terjadilah sesuatu yang membuat mereka terlempar dari jalur itu. Mereka yang keluar jalur memiliki kesalahan yang sama banyak dengan mereka yang terus maju dan menanjak; bedanya pemimpin yang keluar jalur tidak menggunakan kemerosotan atau kegagalan mereka sebagai sarana belajar dari pengalaman. Mereka menyembunyikan kesalahan mereka dari orang lain. Mereka tidak segera meralat apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka cenderung menyusahkan diri dengan kesalahan itu, senantiasa mengenangnya kembali selama bertahun-tahun setelah itu. Mereka yang menanjak melakukan yang sebaliknya; mengakui apa yang terjadi, mengingatkan kolega pada akibat yang mungkin terjadi, melakukan upaya sebaik mungkin untuk memperbaikinya dan kemudian melupakan semua itu dan bergerak maju bersama karir mereka”
Morgan W. McCall & Michael Lombardo

17
BANGUNLAH HUBUNGAN YANG POSITIF  

“Tidak dapat membina hubungan antar pribadi dengan baik pasti akan menenggelamkan seorang pemimpin”
John H. Zenger & Joseph Folkman

“Kekurangan fatal yang kedua adalah ketidakmampuan untuk membina hubungan antarpribadi yang positif. Kekurangan ini muncul dari dua sumber utama; apa yang kita kerjakan dengan salah (salah pelaksanaan) dan apa yang gagal kita lakukan dengan benar (salah akibat kelalaian)”
“Salah pelaksanaan. Bila seorang pemimpin menjadi kasar, tidak peka, suka mengintimidasi, dingin, arogan dan suka main gertak; ini adalah pola pasti membawa kegagalan dalam dunia dewasa ini (perilaku semacam ini dapat diterima sekitar 50 tahun lalu). Tidak ada kecerdasan, kerja keras, ketajaman bisnis serta keterampilan administrative yang dapat menggantikan kejanggalan hubungan antarpribadi semacam ini. Di dalam profesi sumber daya manusia ada ungkapan ‘kita mempekerjakan orang untuk kompetensi teknis mereka dan memecat mereka karena tidak kompeten dalam hubungan antarpribadi’”
“Kesalahan akibat kelalaian. Tidak mengikuti beberapa aturan sosial mendasar berikut: (1) Bila anda berbicara dengan orang, pandanglah mata mereka (2) Belajarlah mengingat dan menggunakan nama orang (3) Bila anda berbicara dengan orang lain, katakana atau lakukan sesuatu yang dapat menimbulkan kesan pada orang itu bahwa anda sedang mendengarkan atau memahami (4) Jangan mendominasi pembicaraan dan memborong seluruh acara (5) Bertanyalah dengan jujur tentang gagasan dan kegiatan orang lain (6) Tretawalah tentang humor yang dilontarkan orang lain dan berusahalah membuat humor (7) Pujilah kerja keras orang lain dan berusahalah meneruskan sesuatu yang baik (8) Tersenyumlah ketika anda bertemu dan menyapa orang lain”

18
BERSIKAPLAH TERBUKA TERHADAP GAGASAN-GAGASAN BARU  

“Pemimpin sering dikuasai oleh dua setan kembar – keangkuhan dan berpuas diri. Pemimpin yang angkuh yakin bahwa gagasan mereka pasti lebih unggul daripada gagasan orang lain. Pemimpin yang suka berpuas diri tidak mau mendengarkan gagasan orang lain dan mencobanya; status quo. Mungkin orang-orang ini merasa terancam oleh gagasan-gagasan baik yang berasal dsari orang lain. Mungkin juga kekurangan energi untuk membuat perubahan…”

“… Mungkin mereka tumbuh dengan pemikiran salah yang menganggap bahwa seseorang yang memiliki gelar resmi ‘manajer’ harus mempunyai semua jawaban bagi semua masalah”

“Kurangnya keterbukaan pada gagasan baru atau yang berbeda adalah kekurangan fatal yang ketiga”

“Banyak diantara kita yang bekerja bagi pemimpin yang secara otomatis memberikan tanggapan negative bagi setiap gagasan atau saran. Kerusakan yang ditimbulkan di dalam organisasi oleh pemimpin semacam itu tak terkatakan besarnya”
John H. Zenger & Joseph Folkman

19
BERTANGGUNGJAWABLAH  

“Beberapa manajer tampaknya menganut filosofi ‘tidak menjadi masalah anda menang atau kalah, yang penting adalah bagaimana anda melemparkan kesalahan’. Pemimpin seperti ini menjadi mangsa dari kesalahan fatal yang keempat – kurangnya akuntabilitas. Para pemimpin yang tidak mengambil tanggung jawab sepenuhnya atas kinerja kelompok dapat dipastikan akan gagal”
“Pemimpin yang bertanggung jawab mengidentifikasikan dirinya begitu kuat dengan kelompok sehingga keberhasilan kelompok adalah sama dengan keberhasilan pribadi. Lebih mengutamakan tujuan organisasi daripada ambisi pribadi; mengutamakan kesejahteraan organisasi secara keseluruhan daripada bagiannya sendiri…”

“… Mengerjakan hal-hal yang mungkin tidak memberikan imbalan langsung kepadanya, tetapi ia mengerjakan itu karena hal itu memang merupakan hal yang benar untuk dilakukan dan akan membantu organisasi dalam jangka panjang”

“Manajemen tidak memiliki kekuasaan. Manajemen hanya memiliki tanggung jawab”
Peter F. Drucker

20
MENGAMBIL PRAKARSA  

“Kekurangan fatal kelima adalah kegagalan mewujudkan sesuatu. Para pemimpin yang penuh aspirasi namun kurang berprasangka akan menutup karirnya sendiri. Pemimpin harus menciptakan hasil. Mereka harus berada di garis depan dalam menciptakan perubahan yang diperlukan. Pemimpin yang berorientasi pada tindakan harus bertindak seperti para peselancar. Mereka harus memposisikan diri di depan gelombang agar dapat memperoleh tumpangan yang mendebarkan. Para peselancar yang terlambat satu detik saja hanya akan terombang-ambing di lautan menunggu gelombang berikutnya”

21
BELAJARLAH DARI UMPAN BALIK 

“Tidak mengetahui adalah buruk, tidak ingin mengetahui adalah lebih buruk lagi”

“Di benak setiap orang ada sebuah gambar tentang bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri. Potret diri secara mental ini merupakan ringkasan dari nilai-nilai, perilaku dan citra diri. Dalam banyak kasus, pemimpin yang memiliki kekurangan fatal tidak menyadari sepenuhnya akan kekurangan tersebut. Sebagai contoh, seseorang yang serta merta menolak gagasan orang lain mungkin menggambarkan diri mereka sendiri sebagai orang yang memiliki pengalaman luas sehingga mereka mengetahui gagasan apa yang akan berhasil atau gagal. Orang-orang seperti ini tidak merasa bahwa mereka menolak gagasan orang lain”
“Umpan balik dari pelatihan, diskusi atau penelitian menyeluruh dapat memberikan ‘informasi yang belum dikonfirmasi’. Pesan yang disampaikan dapat saja bertentangan dengan persepsi dari pemimpin itu sendiri. Hal ini menciptakan sebuah dilema yang mendorong sebuah tindakan. Sekarang sang pemimpin memiliki beberapa pilihan: (1) Pertama, menolak informasi tersebut. (2) Kedua, memilih untuk mengubah konsep diri. (3) Ketiga mengubah perilaku”
“Tidak semua umpan balik itu berguna. Umpan balik sangat berguna bila bersifat spesifik, terfokus dan berkaitan dengan perilaku atau proses (bukan kharakteristik kepribadian secara umum)”
“Tidak semua orang suka jenis umpan balik yang sama. Beberapa orang sangat termotivasi oleh umpan balik yang positif. Mereka akan merasa terpukul oleh umpan balik yang negatif. Namun ada juga yang tidak peduli dengan umpan balik positif, bagi mereka umpan balik yang negatif merupakan sumber informasi yang sangat berharga, sedangkan umpan balik positif hanyalah pujian kosong belaka”

22
GUNAKAN PENDEKATAN NON LINIER  

“Bila anda memutuskan akan meningkatkan sebuah keterampilan kepemimpinan, misalnya tingkat keahlian tehnik anda, anda harus memeriksa kinerja anda say ini dan membuat sebuah daftar tindakan seperti; (1) mengikuti sebuah kursus (2) menghadiri lokakarya profesional (3) membaca jurnal-jurnal tehnik/profesional (4) membaca buku terkini di bidang tehnik/professional (5) memperluas jaringan/meminta pelatihan/bimbingan tentang topik tertentu. Taktik ini merupakan taktik serangan frontal yang klasik dan langsung. Rencana ini menggambarkan sebuah garis lurus dari posisi di mana anda berada menuju posisi yang diinginkan. Rencana linier atau garis lurus ini sangat ampuh bagi orang-orang yang bergerak dari kinerja yang buruk menuju kinerja yang baik. Namun cara paling tepat untuk mengubah yang baik menjadi luar biasa adalah dengan menggunakan pendekatan nonlinier”

“Keterampilan kepemimpinan tertentu berkaitan dengan ‘competency companions’ atau kompetensi penyerta. Cara yang terbaik untuk meningkatkan satu keterampilan dapat dicapai dengan meningkatkan keterampilan penyerta kompetensi tersebut dan bukan pada keterampilan yang menjadi target itu sendiri. Robert Kelly dalam penelitiannya tentang para ilmuwan yang paling produktif di Bell Labs menemukan bahwa para ilmuwan yang paling kompeten bukanlah mereka yang memiliki kecerdasan paling tinggi atau paling banyak pengetahuannya. Mereka adalah orang-orang yang menggunakan keterampilan hubungan antar pribadi untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Mereka membantu para kolega, menunjukkan perhatian, menanyakan gagasan orang lain dan memberikan pujian kepada orang lain”

“Tidak ada yang lebih baik selain menggarap satu karakter atau sifat kepemimpinan. Dan bila anda berhasil meningkatkan satu karakter, tanpa kecuali anda akan meningkatkan beberapa karakter lainnya”

23
AMBILLAH LANGKAH UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN KEPEMIMPINAN – 

“Setiap pemimpin yang penuh aspirasi dapat mengambil langkah untuk meningkat. Salah satu titik paling baik untuk memulai adalah memahami apa yang dapat anda kerjakan dengan baik lalu mewujudkannya. Kami percaya bahwa hal yang masuk akal bagi anda adalah menjadi unggul dalam bidang kekuatan anda. Tidak ada seorangpun yang dapat mengerjakan segala sesuatu. Anda akan lebih merasa termotivasi, membuat lebih banyak kemajuan dan mengalami lebih banyak kesuksesan bila anda berfokus pada bidang yang anda sukai dan dimana anda dapat mengerjakannya dengan baik. Strategi terbaik adalah menggunakan kekuatan anda dan mencari jalan agar orang lain mengisi kekurangan anda; melalui pendelegasian, penggunaan sumberdaya eksternal atau membuat alokasi ulang atas penugasan kerja. Anda dapat menemukan berbagai cara untuk membuat kelemahan anda menjadi tidak relevan lagi”

“Ada saatnya seseorang harus berpuas diri dengan apa yang ia miliki, tetapi jangan sekali-kali merasa puas dengan diri sendiri”
William George Jordan

24
KEMBANGKAN ANAK BUAH ANDA  

“Sebuah sarana yang tangguh dalam proses pengembangan diri anda sendiri adalah mengembangkan orang-orang disekitar anda”

“Beberapa pemimpin memandang pengembangan diri anak buah adalah sekedar embel-embel belaka – sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan ‘pekerjaan mereka yang sebenarnya’. Namun meluangkan waktu untuk mengembangkan anak buah merupakan sebuah perilaku yang penting bagi seorang pemimpin. Bukan hanya memberi dampak kepada orang-orang yang ia bantu, tetapi juga memberikan pengaruh yang sama bagi sang pemimpin dan organisasi. Mengembangkan orang lain, membawa anda dari seorang profesional independen yang hanya menaruh perhatian pada diri sendiri, menuju seorang pemimpin sejati yang menciptakan kapasitas organisasi dan membangun manusia”

“Definisi konvensional dari manajemen adalah menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain, namun manajemen yang sejati adalah mengembangkan manusia melalui pekerjaan”
Agha Hasan Abedi


BUDI PEKERTI TERCELA
Serat Panitisastra

Pemimpin harus menghindari budi pekerti yang tercela; (a) Rendah budi pekertinya, kurang berperikemanusiaan, senang mendendam, mengancam, dll. (b) suka mencerca, suka mencela (c) wajahnya kurang menyenangkan; misalnya mencibir, melotot dan cemberut bila berhadapan dengan orang lain.

1
Apus-apus (bohong)
Yaitu manusia yang berbuat tidak sesuai dengan hati nurani. Mereka tega bertutur kata manis, tutur kata yang tidak sebenarnya dengan maksud untuk mencari keuntungan sendiri
2
Cethil (kikir)
Artinya orang yang tidak mau sama sekali memberikan sebagian miliknya kepada orang lain. Kebalikannya adalah blaba (mau memberikan kepada orang lain tanpa diminta) tapi blaba wuda (memberikan terus sampai diri sendiri tidak terurus) juga bukan pakerti yang disukai.
3
Nyacad (mencemooh)
Yaitu sikap dan perilaku yang senang menjelek-jelekkan pihak lain, Orang yang senang mencacat biasanya meremehkan pihak lain, menganggap dirinya saja yang selalu benar, sedangkan yang lain dianggap salah
4
Ngucireng (pengecut)
Penakut, tidak berani bertanggung jawab atas perbuatannya.
5
Nglokro (putus asa)
Berisi watak dan perbuatan pesimis, tidak memiliki gairah hidup. Takut menghadapi kenyataan yang kadang-kadang pahit. Rendah diri, senang menyendiri dan terasing.
6
Mata dhuwiten (materialistik)
Mendewakan harta, semua tindakan diukur dengan materi. Uang adalah segalanya. Jika ada pekerjaan yang ‘kering’ mereka menolak dengan alasan bertubi-tubi, jika pekerjaan ‘basah’ akan ditangani sendiri bahkan kalau bisa, tanpa melibatkan siapapun.
7
Crobo (ceroboh)
Yaitu watak dan perilaku yang tidak memperhatikan diri sendiri dan lingkungan. Malas bersih-bersih dan membiarkan diri dan lingkungan kotor.
8
Saru (jorok)
Watak dan tindakan yang tidak sejalan dengan aturan (lisan atau tertulis). Saru bisa berupa lontaran tutur kata yang berhubungan dengan seks, atau hal-hal rahasia dibicarakan secara terbuka. Saru bisa juga berupa tindakan, misalnya berpakaian yang tidak senonoh.
9
Misuh (berkata-kata kasar)
Pengucapan kata kasar sebenarnya merupakan cerminan hati yang belum halus. Senang mengucapkan umpatan yang membuat orang marah atau sakit hati. Mereka menganggap orang lain sejajar dengan ucapannya itu. Biasanya apabila orang sedang jengkel atau marah besar.
10
Mangro (mendua)
Artinya orang yang bermuka dua; plin-plan dan suka mengadu. Tergolong orang yang tidak memiliki pendirian yang pasti, ragu-ragu, tidak memihak, mengikuti mana yang menguntungkan bagi dirinya. Hanya mengambil keuntungan sesaat.
11
Aleman (manja)
Manja bukan hanya monopoli anak kecil atau wanita di depan pria. Manja adalah watak atau perilaku yang kadang membuat orang lain kerepotan karena banyak tuntutan (yang kadang bahkan tak wajar), selalu ingin yang enak-enak saja.
12
Ndludur
Artinya watak dan perilaku yang kurang ajar. Orang yang demikian biasanya nekad, kurang tahu diri dan menurut benarnya sendiri. Sikap ndludur akan berakibat pada watak mbejujag (kurang ajar).
13
Drengki (iri hati yang menjadi-jadi)
Orang yang drengki akan mengakibatkan sikap dan perilaku srei, artinya tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat, kedudukan, sukses. Mereka selalu berusaha agar orang tersebut gagal. Jika watak ini berkembang akan menyebabkan jail methakil; selalu berusaha menang sendiri, ingin mendapat nikmat sendirian. Dengan berbagai cara, selalu ingin melihat orang lain sengsara dan dirinya berhasil. Gemar ‘nabok nyilih tangan’ dan bahkan ‘lempar batu sembunyi tangan’. Tidak habis-habisnya mencari kesalahan orang lain. Pada tingkat yang lebih parah, dengki ini dapat menyebabkan pendendam (mendhem kesumat).
14
Mbandrek
Adalah watak dan budi pekerti yang menuruti hawa nafsu (seks). Orang yang gemar bandrek biasanya sering mengganggu isteri atau suami orang lain.
15
Mbeler
Artinya watak yang selalu merugikan orang lain; biasanya senang kesana kemari, mengambil barang milik orang lain, jika berhutang jarang segera dibayar dan selalu mencuri-curi kesempatan. Jika orang lain terlena, mereka akan bertindak seperti ngutil, nyolong dan climut. Biasanya berpura-pura hatinya bersih.

0 komentar:

Posting Komentar